Ubuntu 8.10 (Intrepid Ibex)
Pada tanggal 30 Oktober 2008, ubuntu resmi mengeluarkan versi terbarunya yakni Intrepid Ibex. Bagi penggemar ubuntu, silahkan menikmati fitur-fitur terbarunya…

Informasi detailnya bisa kunjungi di situs ubuntu-id
Pada tanggal 30 Oktober 2008, ubuntu resmi mengeluarkan versi terbarunya yakni Intrepid Ibex. Bagi penggemar ubuntu, silahkan menikmati fitur-fitur terbarunya…

Informasi detailnya bisa kunjungi di situs ubuntu-id
Di hari libur ini, aku pengen menuliskan sedikit tentang konseptual dari web service (asline judul skripsiku sih
). Seperti kita ketahui, sudah banyak situs2 terkenal yang menggunakan teknologi web service. seperti : Google dengan API-nya, Amazon dengan Amazon Web Service-nya, dll. (He..He..He..Rada serius dikit).
Apa web service itu?
A Web service is a software system designed to support interoperable machine-to-machine interaction over a network. It has an interface described in a machine-processable format (specifically WSDL). Other systems interact with the Web service in a manner prescribed by its description using SOAP-messages, typically conveyed using HTTP with an XML serialization in conjunction with other Web-related standards. (detailnya : disini, akakakakaa….).
Dari definisi diatas, terdapat kata kunci “interaction” dimana memiliki maksud bahwa web service dapat meng-komunikasi berbagai software dari berbagai mesin maupun platform yang berbeda. Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut, sebuah web service memerlukan agen. Agen adalah potongan software atau hardware yang mengirim dan menerima pesan (message). Agen tersebut dapat ditulis dengan berbagai bahasa pemrograman.
Web service ini didasarkan kepada protokol SOAP, WSDL, dan NuSOAP sebagai SOAP ekstension untuk PHP. Dengan ketiga tool ini, akan diperoleh suatu web service opensource yang dapat digabungkan dengan software opensource lain untuk membangun aplikasi berbasis web yang lengkap.
Ok…Kita pilah satu - persatu nih, biar sedikit tampak jelas
.
SOAP (Simple Object Access Protocol)
SOAP adalah Lightweight XML-based protocol untuk mempertukarkan struktur informasi antar aplikasi terdistribusi melalui protokol-protokol native semacam HTTP.
Apa yang dilakukan SOAP?
Tiga bagian yang menyusun protokol SOAP,
WSDL (Web Service Definition Language)
WSDL adalah format XML untuk mendeskripsikan layanan network sebagai sekumpulan endpoint yang beroperasi pada pesan yang berisi informasi berorientasi dokumen, dan informasi berorientasi prosedur. WSDL diperluas supaya dapat menggambarkan endpoint serta pesannya dengan mengabaikan format pesan, protokol jaringan yang digunakan untuk berkomunikasi.
Arsitektur Web Service
Langkah yang dilakukan untuk mendefinisikan web service :
Seperti itulah sekilas tentang web service dengan SOAP dan WSDL. Mohon maap klo masih banyak kurangnya (sik newbie). Semoga bermanfaat..
The Extensible Markup Language (XML) is a simple, platform-independent standard for describing data within a structured format. XML is not a language but instead a metalanguage that allows you to create markup languages. In layman’s terms, it allows data to be tagged using descriptive names so both humans and computer applications can understand the meaning of different pieces of data.
For example, reading the following structure, it is easy to understand what this data means :
<state>
<name>Maine</name>
<capitol>Augusta</capitol>
<animal>Moose</animal>
<bird>Chickadee</bird>
<tree>White Pine</tree>
</state>
The state capitol of Maine is Augusta. The state animal is the moose, the state bird is the chickadee, and the state tree is the white pine. Although no officially named standard markup language was used for this example, it is still a well-formed XML document. XML offers the freedom of defining your own language to describe your data as needed.
With these new languages, the number of applications (ranging from document publishing applications to distributed applications) and the number of people and businesses adopting XML continue to grow. One of the most visible XML-based technologies today is the Web service technology, where Web-based applications are able to communicate in a standardized, platform-neutral way over the Internet. As you may have guessed, this is a big reason why XML and Web serviceshave become buzzwords. With almost 30 years of history leading up to its creation, XML may just be what the original pioneers behind generalized markup envisioned.
Ehm…Just a little things from me
I did my time, and I want out!
So abusive fate!
It doesn’t cut, this soul is not so vibrant.
The reckoning, the sickening.
Back at your subversion.
Pseudo-sacred sick psycho virgin.
Go to your classes, go dig your graves!
Then fill your mouth with all the money you would save.
Sinking in, getting smaller again.
undone! It has begun, I’m not the only one!
And the reign will kill us all.
Throw ourselves against the wall.
But no-one else can see.
The preservation of the martyr in me.
Psychosocial, Psychosocial, Psychosocial.
Psychosocial, Psychosocial, Psychosocial.
There are cracks on the road we lay.
From where the devil fell, the secret have gone mad.
This is nothing new, but would we kill it all?
Fate was all we had!
Who needs another mess, we could start over.
Just look me in the eyes and say I’m wrong!
Now there’s only emptiness, burn elicit self threat.
I think we’re done, I’m not the only one!
And the reign will kill us all.
Throw ourselves against the wall.
But no-one else can see.
The preservation of the martyr in me.
Psychosocial, Psychosocial, Psychosocial.
Psychosocial, Psychosocial, Psychosocial.
Fate! Cannot catch this lie, (Psychosocial)
I’ve tried to tell you thrice! (Psychosocial)
Your hurtful lies are giving out. (Psychosocial)
Can’t stop the killing, I can’t help it. (Psychosocial)
If it’s something secret. (Psychosocial)
Is this what you want? (Psychosocial)
I’m not the only one!
And the reign will kill us all.
Throw ourselves against the wall.
But no-one else can see.
The preservation of the martyr in me.
Lagi - lagi tentang lirik lagu nih, he..he..he..
Tapi lirik lagu yang satu ini merupakan karya terbaru dari band metal yang merupakan idolaku. Dan fenomena yg diceritakan dalam lirik itu bukanlah hanya sekedar pendapat aja kan? Cobalah liat disekitar kita.
Sedikit ngerti ngaku udah paham, Kerja sedikit maunya kelihatan, Otak masih kaya ‘TK, Kok ngakunya Sarjana, Ngomong-ngomongin orang, Kaya udah jagoan…
Hak manusia ingin bicara, Hak manusia ingin bernyanyi, Kalau sumbang janganlah didengarkan, Kalau merdu ikutlah bernyanyi, Jangan ngelarang-larang, Jangan banyak komentar, Apalagi menghina..
Lirik diatas merupakan lirik lagu dari salah satu band favoritku, tapi kalo kita menyimak lagi tentang makna dari setiap kata - kata dari penggalan lirik tersebut. Sempatkah kita mempertanyakannya pada diri kita sendiri. Minimal bercermin diri apakah kita pernah menjadi orang yang dibicarakan dalam lirik lagu itu. Ataukah kita sedang menjadi orang yang ada di setiap kata - kata lirik lagu itu.
Dan….Lihatlah disekeliling kita, apakah ada orang - orang yang mirip dengan lirik lagu yang berjudul "Tong Kosong" itu.
Saat browsing di pagi ini, tak sengaja saya menemukan sebuah artikel yang menarik tentang Acceleration Class atau disebut juga dengan kelas excellent. Disamping memiliki kelebihan dan keuntungan dalam pelaksanaannya, ternyata program ini juga mimiliki sisi negatif. Berikut cuplikan dari situs yang telah baca tersebut.
Sumber : http://murniramli.wordpress.com/2008/05/22/kelas-excellent/
Kelas excellent adalah kelas yang berisikan anak-anak unggul dari segi akademik atau kemampuan nalar. Kelas ini dalam istilah yang lain sering disebut kelas akselerasi. Materi belajarnya menurut seorang guru di sebuah SMP yang pernah saya wawancarai, pada prinsipnya sama dengan kelas reguler tetapi lebih dipercepat dan diperkaya dari segi isinya.
Beberapa pakar menolak keberadaan kelas akselerasi atau kelas excellent dengan alasan bahwa pendidikan dari segi isinya harus dibuat equal, artinya semua siswa berhak mendapatkannya. Dengan pengelompokkan semacam ini maka siswa sudah mulai dikenalkan dengan adanya perbedaan antara yang berotak brilian dengan yang berotak cerdas. Tentu saja secara psikologis ada dampak negatif yang akan muncul.
Tetapi kenapa sebenarnya muncul ide pengelompokan ? Saya mencoba melihatnya dari kaca mata neo liberalisme. Dengan berubahnya paradigma pengelolaan pelayanan publik di tahun 1970an, yaitu dari konsep yang menghamburkan uang kepada konsep menghemat budget, dari konsep sentralisasi menjadi konsep desentralisasi, dan dari konsep pendidikan berorientasi anak menjadi pendidikan yang berorientasi pasar, maka sekolah-sekolah menjadi alat ekonomi.
Fungsi sekolah adalah sebagai produsen industri dalam menyediakan tenaga kerja. Yang karenanya, lulusan sekolah pun harus melewati standardisasi yang dibuat oleh pakar ekonomi, dan bukan pakar pendidikan. Sama seperti di Indonesia, di beberapa sekolah di Amerika, guru-guru pun ditekan untuk mengajarkan materi belajar sesuai dengan bahan ujian standardisasi. Mereka dipaksa untuk memperoleh nilai bagus agar dengan hasil itu kepercayaan publik meningkat. Tetapi siapa sebenarnya yang membuat publik setuju dengan konsep standardisasi ? Lagi-lagi pakar ekonomi (ini menurut Hursh).
Kelas excellent adalah juga untuk memenuhi permintaan pasar. Anak-anak yang dipaksa untuk menggunakan talenta kecerdasannya untuk memenuhi keinginan beberapa pihak tertentu yang menginginkan sekelompok Einstein baru lahir dari sekolah-sekolah dasar dan menengah. Mereka-merekalah yang kelak akan dididik di universitas bergengsi untuk menjadi pekerja di perusahaan bergengsi pula. Hursh bahkan menyebutkan bahwa pasca Fordism, terlihat nyata kolaborasi antara pemerintah, sekolah (Perguruan Tinggi) dan perusahaan.
Sayangnya anak-anak yang cerdas secara akademik itu seharusnya dididik pula untuk menjadi manusia normal. Seperti kata McNeil yang dikutip oleh Hursh, bahwa peran siswa sebagai kontributor utama di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai pemikir, manusia biasa yang mempunyai pengalaman hidup dan keseharian yang seharusnya digali dan dicernanya di ruang kelas dengan bimbingan guru, menjadi tidak bermakna apa-apa dengan program yang mengejar standard excellent.
Saya berpendapat bahwa penamaan kelas excellent seharusnya diberikan untuk kelas yang siswanya mengalami kesulitan dan kelambatan dalam pemahaman atau kelas rata-rata, yang dengan kepandaian dan kebijaksanaan pengajaran guru-gurunya bisa membawa semua anak merasakan nikmatnya menjadi orang terdidik.
Kelas excellent harus memberikan materi pelajaran hidup, yang mengantarkan siswa untuk menjadi manusia yang berkembang fisik, jiwa/naluri dan akalnya. Dan untuk keperluan ini siswa tidak perlu dipaksa mengikuti segala tetek bengek standardisasi achievement, tetapi dia dianggap sudah mengikuti pendidikan yang terstandar, memadai untuk keperluan hidup selanjutnya.
Firman Faizal Rahman
are_u_ichank@yahoo.com